Niigata, 8日7月
Hari ini adalah pengumuman kelulusan para siswa tahun ketiga…
“Hazuki!” sudah bisa ditebak kalau itu adalah…
“K… Kyo-senpai??” tubuhku langsung ditubruk olehnya dari belakang. Jika kurasakan dari gelagatnya, tampaknya Ia sangat senang hari ini.
“Aku lulus!! Peringkat ke 14 dari 130 siswa!!” sepertinya perasaan yang meluap-luap.
“Benarkah? Bukankah itu hal yang bisa senpai lakukan?”
“Maksudmu?” Kyo-senpai melonggarkan rangkulannya.
“Aku yakin Senpai bisa…” senyumku menatap langit biru Nishigawa Kotogakko.
“Tidak, jika tanpamu,” Ia mendekatkan pipinya pada pipiku.
“Kyaaa~!! Senpai hentikan!”
———–
Kyo-senpai sudah lulus. Dan itu berarti, kita takkan banyak bertemu seperti dulu, karena ia harus melanjutkan kuliah.
“Senpai, bukankah kau harus melanjutkan ke jenjang Kuliah?” tanyaku saat kami membaca buku bersama disebuah cafe dekat sekolah.
Ia tersenyum padaku sambil melepaskan kacamatanya, “tenang saja,” tawanya lepas, “ujian masuk universitas masih lama,” Ia memencet hidungku.
“Henpai… Hepass! Ha hiha happass!!”
Lagi. Tawanya menenangkan hatiku.
Terima kasih, Tuhan…
“Hei, bagaimana kalau hari ini, kau main kerumahku?” tanyanya.
“Hee? Untuk apa?”
“Aku, ingin mengenalkanmu pada orang tuaku,”
“Apa? Secepat ini??”
“Setidaknya, aku ingin Okaa-san tahu siapa orang yang membuatku berhasil lulus ujian,”
“Siapa?” tanyaku.
“Kau, Hazuki,” kali ini Ia mengacak-acak rambutku.
“Tidak. Yang membuat Senpai berhasil, adalah diri Senpai sendiri!”
Ia tersenyum, “namun aku akan tetap berterima kasih padamu,”
Jadilah hari itu aku pergi ke rumah Kyosuke-senpai.
“Jadi ini, pacar baru mu, Satoshi?” tanya wanita setengah baya yang berparas lembut tersebut; Kyousuke Kaede.
Kami berkumpul di ruang keluarga yang bergaya tradisional.
“Iya,”
Sedang aku hanya bisa terdiam.
“Janganlah membuat masalah lebih jauh,”
Tiba-tiba saja, Ia meninggalkan ruangan–dan kami berdua.
“Yah, sepertinya, sama saja ya,” senyumku meringis.
“Maafkan Okaa-san jika ada perkataannya yang tidak mengenakkan,”
Kuusap pundaknya yang lebar, “Tidak apa. Toh, mungkin aku akan seperti itu pada anakku kelak,”
“Sepertinya, Okaa-san sangat menentangku untuk pacaran,” keluhnya.
“Aku yakin, pasti ada satu wanita yang bisa meluluhkan hati Okaa-san,” hiburku.
“Hhh… Kalau tetap tidak disetujui seperti ini, lebiih baik kita kawin lari saja deh,” desahnya.
“Senpai!” aku memukul lengannya, “hentikan~!”
—–
Niigata, 11日7月 …
Hari ini, aku resmi menjadi murid tahun kedua. Dan secara otomatis, kelasku pun berubah menjadi 2-C.
“Wah, kita sekelas lagi, Hazuki!”
Tidak banyak yang berubah, selain kebahagiaan yang kugenggam erat ini.
Hazuki
[hazu-q@***.jp]
Senpai, aku dapat kelas 2-C …
Saat ini, Kyo-senpai sedang berada di Tokyo untuk menemani temannya yang mau mendaftar di Tokyo Daigakuen.
Kyosuke-senpai
[kyo-shi@***.jp]
benarkah? Selamat ya… Semoga tahun ini lebih membahagiakan … ^^v
Namun, Takayuki berbeda kelas denganku. Ia mendapat kelas 2-A, karena kemarin ia mendapat peringkat 10 besar dalam ujian kenaikan kelas kemarin.
Takayuki dapat peringkat 18, sedang aku mendapat peringkat 53.
Perbedaan yang sangat jauh…
Tetaplah berbahagia seperti ini…
Niigata, 15日7月
Ternyata… Hari ini harus datang kepadaku..
“Ada apa, senpai? Tumben sekali menjemputku?” kuhampiri dirinya saat sedang menungguku di gerbang sekolah.
Senyum tipis mengulas diwajahnya. Sangat tipis, “kuantar kau pulang. Ada hal yg ingin kubicarakan,”
Sore itu, Kyousuke-senpai tidak seperti biasanya.
—————-
“Yah, kita sudah sampai,” Ia mematikan mesin motornya.
Aku mencari pandangannya.
“Jaa… Sebaiknya,aku pergi saja,” Ia bersiap pergi lagi dengan senyum yang masih tidak kumengerti.
“Senpai…” aku menahannya untuk pergi dengan menarik lengan bajunya, “apa yang ingin kau katakan?”
Ia terhenti untuk sejenak. Angin akhir musim semi ini, terasa dingin.
“Masihkah kau mencintaiku hingga esok pagi?” tanyanya lirih
“Selama-lamanya, Senpai,”
Ia menghela nafas, “Hazuki, aku … Diterima di Tokyo Daigakuen,”
“Hah?” aku tak mengerti.
Bagaimana bisa?
“Saat kemarin ke Tokyo… Itu sebenarnya… Aku mengikuti ujian masuk universitas,” Ia mengalihkan pandangannya dariku.
“Maksud senpai…?” aku mengerti. Tapi, aku ingin penjelasan…
“Aku… Akan pindah dari Niigata, dan menetap di Tokyo,”
Suasana hening sejenak.
“Dan mungkin aku takkan kembali lagi ke sini,”
“Aku ikut!” ucapku tiba-tiba.
Kulihat raut wajah Kyousuke-senpai yang tak percaya.
“Kau tahu, resiko hidup di Tokyo??” tanyanya memastikan.
Aku menggeleng pelan.
“Bodoh!! Kalau kau tidak tahu, mengapa ingin ikut?!”
“Aku ingin selalu bersama Kyo-senpai~!” ujarku tiba-tiba.
Kulihat Kyo-senpai menarik nafas dalam, “bagaimana kalau tujuanmu hilang??”
“Um?” aku tak mengerti yang ia katakan.
“Yah, misalkan saja, aku bertemu wanita lain, lalu kita putus?”
“Senpai…”
Putus? Kami jadian saja belum terhitung bulanan. Hanya dua minggu kurang… Sekarang, sudah berbicara putus?
“Tidak. Itu misalkan,” kedua tangannya memegang bahuku, “setiap manusia bisa berubah, Hazuki…”
Mungkin iya, aku ini cengeng. Saat itu juga aku langsung menangkis tangannya dan berlari ke dalam rumah. Meninggalkannya di luar rumah.
どうして君に何も伝えられなかったんだろう
[Mengapa aku jatuh cinta kepadamu??]
でも君が選んだのは違う道
[Tapi kau memilih jalan yang berbeda denganku]
———————–
Semalaman aku terus mengurung diri dalam kamar. Okaa-san saja sampai heran dibuatnya. Aku… hanya tak percaya saja Senpai sangat berbeda dari yang ku kenal. Seseorang yang kupercaya yang tiba-tiba saja…
Ah sudahlah…











