Kiseki Chap13 ~浜の記憶~

734902983_17a1c00be3

“Tadaima, Okaa-san..” ucap kami berdua saat memasuki rumahnya.

Terlihatlah seorang perempuan dari dalam ruangan, “Okaeri. Hee? Siapa gadis cantik ini??” ia menyipitkan matanya.

“Hai’, Okaa-san,” aku berjalan mendekatinya.

“Wah, sudah sehat kah?” kedua telapak tangannya yang halus memegang bahuku.

“Sudah, walau masih sedikit sulit untuk berjalan,” ringisku. Lalu kami berdua tertawa bersama.

Sejenak, kulirik ekspresi Kyo-senpai; bingung dan tak mengerti.

Okaa-san hanya bisa mengacak-acak rambut anak semata wayangnya ini, “sesuai janjiku, Satoshi…” senyumnya.

Dapat kutangkap ekspresi tidak mengerti dari Kyo-senpai.

“Oya, kalian ingin pergi kemana?”

“Festival Kembang Api,” jawab Kyou-senpai singkat, lalu meninggalkan kami berdua di lantai bawah.

Aku memandang Kaede-san tidak mengerti, namun wanita itu malah tersenyum penuh arti padaku, “kalau mau ke festival, jangan berdandan seperti ini. Memalukan~!” Ia menyeretku ke dalam rumah.

———————————-

“Waahh… benarkah ini untukku??” tanyaku takjub sambil mematut diriku di depan cermin. Hari ini, aku dipakaikan sebuah yukata cantik berwarna orange. Ukiran bunga-bunga daisy yang lembut menghiasi ujung-ujung kainnya.

“Tidak kusangka, Yukata ini masih bagus,” tangannya yang terampil menggulung rambutku, “aku masih ingat sebelas tahun yang lalu, terakhir kalinya aku memakai yukata ini,”

Aku tertawa kecil.

“Nah, selesai,” Ia memutar badanku hingga terlihat pantulan keseluruhannya dalam cermin, “cantiknyaa…” pujinya.

Tak lama kemudian, kudengar derap langkah menuruni tangga dan terhenti di depan pintu kamar.

“Mau berkata apa, Satoshi??” goda wanita ini terhadap anaknya.

Kulihat Kyo-senpai hanya bisa terdiam di depan pintu. Wajahnya memerah dan menunduk.

Aku pun menundukkan kepala ini sambil mengulum senyum. Kaede-san pun pergi meninggalkan kami berdua.

“Um… Unn… Bagaimana?” tanyaku.

“Kau sangat cantik!” ujarnya spontan.

Aku sempat terkejut, “bu… bukan itu maksudku. Bagaimana, jadi pergi atau tidak??”

Jujur kuakui, Kyo-senpai tampak lebih tampan jika sedang tersipu.

“Senpai??” kucari pandangannya yang dialihkan dariku.

Tiba-tiba saja Ia menarik tanganku dan membawaku keluar, “Kami berangkat,”

“Hati-hatilah dijalan!!” teriak Okaa-san dari dapur.

“Iya,” jawabku.

Lalu kami pun pergi dengan menaiki motor.

—————————-

Tibalah kami pada sebuah pantai di ujung tanah Niigata.

“Kenapa jauh sekali?” protesku setelah kami berhenti pada sebuah pantai yang lumayan sepi, “kau bilang di tengah kota?!”

“Inilah tempat kenanganku,” senyumnya, “tenang saja, dari sini pun nanti kau bisa melihat Kembang Api,”

Kupijakkan kaki’ku diatas pasir lembut ini. Ah, angin langsung menyapaku dengan bau laut. Tanpa sadar, kaki’ku sudah menyentuh bibir pantai. Aku berbalik pada Kyo-senpai yang tersenyum padaku.

Sejenak kemudian, Ia bangkit dan menghampiriku. Kedua tangannya yang besar melingkupi tubuhku bersamaan dengan nyanyian angin.

Aku hanya bisa terpana, “Se… Senpai?”

Ia lepaskan rangkulannya dan menatap mataku lekat. Samar-samar terdengar bunyi letupan dari tempat sana. Rupanya kemabng api sudah mulai dilepaskan menuju langit.

Aku berlari menuju bibir pantai, sehingga ujung yukata-ku basah dengan kecupan riak air, “Lihatlah~!! Festivalnya sudah mulai~” aku menoleh pada dirinya yang sedang berjalan menuju diriku.

Sambil tersenyum, Ia merogoh sesuatu dari saku jaketnya, “mungkin ini terlalu cepat,” lalu ia menunjukkan sebuah kotak yang berisi cincin saat dibuka.

“Apa ini, Senpai?” tanyaku sembari memandangi benda yang berkilauan itu.

“Hazuki,” Ia menarik tangan kananku, “maukah kau menjadi Ibu bagi anakku??” senyumnya.

Aku sempat terkejut dengan perkataanya. “Se… Senpai…??” kutatap pandangannya yang penuh harap itu. Lalu aku melepaskan diri dari rangkulannya. Ku tatap perasaan tak berwarna ini diujung cakrawala senja.

“Kenapa, Hazuki?”

“Jangan bercanda…” suaraku tergetar seiring riuhnya desir angin yang mendekap kami, “aku… aku sendiri pun tidak tahu apakah ada Hari esok untukku…”

Seketika itu juga, Kyo-senpai mendekapku, “sudah kubilang…” usapan lembut di kepalaku, membuatku sedikit lebih tenang, “… Hazuki akan hidup seribu tahun lagi,” aku bisa merasakan airmata Kyo-senpai dari lirih suaranya, “menikahlah denganku. Maka akan kubuat sejuta ‘hari esok’ untukmu, Hazuki…”

Tuhan, jangan pisahkan aku darinya…

“……karena aku sangat mencintaimu, Hazuki…”

Langit pun menjadi berwarna-warni…

Aku menangis sejadi-jadinya dalam dekapannya.

Lalu Ia menggenggam kedua tanganku. Hangat dan nyaman. Diangkatnya wajahku sehingga pandangan kami bertemu, “maukah kau menikah denganku?”

Sempat aku ragu untuk menjawabnya. Namun, tanpa kusadari aku mendapati diriku memeluk dirinya. Sambil menangis, aku mengangguk, “Iya…”

“Kyo-senpai…” bisikku.
“Ssshh… Sudah kulamar, masih saja memanggilku seperti itu,”
“Maksud Senpai?” kulepaskan diriku dari pelukannya
“Panggil namaku,” senyumnya.

Aku langsung memalingkan wajahku.

Kyo-senpai pun tertawa, “aduh, kenapa wajahmu sampai memerah begini sih??”

Aku tetap memalingkan wajahku darinya.

“Yah, memang butuh waktu sih…” Ia pun berjalan menjauh dariku, “Ayo, kita pulang…” Ia mengulurkan tangannya padaku.

“Aku masih merindukan pantai ini…” rengekku.

“Aku hanya tidak ingin dikupas oleh Ayahmu gara-gara telat membawa pulang anak gadisnya,” candanya.

Tanpa ragu lagi, aku pun meraihnya dengan berjalan menuju dirinya.

Angin pun mengantarakan kami pulang…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.019 pengikut lainnya.