Rock Musical Bleach Code: 003
Mengobati kekecewaan akibat Kengo tak tampil barang seujung batang hidung-nya yang hampir pesek di backstage Live Bankai Show: 003, Aiko pun memutuskan untuk menonton keseluruhan perform di Live Bankai 003 tersebut.
Ada satu sesi yang Aiko sukai dimana setelah lagu favorite-nya (yang menjadi lagu yang sangat tidak disukai Aiko pada perform Bankai 003 ini, karena Kengo tak sumbang suara, dan line ‘hohonde, sora wo miagete’ tidak ada)yakni ‘Mou Hitotsu no Chijou’, yaitu dengan seenaknya Ichigo memlilih Ichimaru Gin (Tsuchiya Yuichi) untuk menjadi penari latar bersama dengan Renji, dalam lagu Rukia; ‘Song For You‘.
Lalu, tanpa diduga-duga, terciptalah adegan yang membuat Aiko bersyukur pernah melihat video yang haram jaddah saat di download tersebut.
YAK! Disaat Rukia (Sato Miki) menyapa para penonton, Tuti-san (Aiko no Papa) melirik Matsumoto-san–Harumi (Aiko no Mama). Dan tanpa disangka, Papah mencabut pedangnya, dan memberikannya kepada mamah!
Kami-samaaaa, arigatou…..
Walau tak melihat Kengo, setidaknya ada satu scene yang bikin Aiko jejeritan.
Itu aja sih, selain itu juga Aiko tengah addicted sama kopi ‘french vanilla’ seharga tiga rebu yang dapat dibeli di konbini-konbini terdekat. Sekalinya nulis, itu bisa dihabiskan 3-4 karton…
Dan semakin hari, semakin jatuh hati sama Kengo.
Gaje ya?
current song: Song For You – Live Bankai Code: 003
cureent mood: mabok cinta dan kopi
location: Home desu!
-Ijou!-
Cucu Laknat

Dengan berduka, saya umumkan saya tengah menjadi warga negara Jawa bagian Barat… *berguling*
Berhubung libur Januari ini siam, maka digeretlah Aiko menuju tanah kelahiran sang Haha di Prnghununh Jawa Barat bagian selatan timur (?) Niatnya sih mengunjungi Jii-nya Aiko yang udah udzur dan semacam lupa ingatan.
Aiko resmi meninggalkan kota kelahirannya jam 11.30 waktu Indonesia bagian galau. Aiko lebih suka mengambil jalur aman alias lewat tol bae. Namun karena itu desa letaknya di selatan jawa dan jalannya hareum jaddah untuk dilewati, maka malam itu pun Aiko ogah berganti nyetir dengan sang ayah dan memilih tidur di jok belakang.
Lusa imlek, dan pastinya banyak truk pengiriman yang segede-gede alaihum lrwat di jalur tersebut—jalur sempit yang setiap 1meternya ada tikungan.
Aiko pun nawaitu untuk tidur di jam 1. Namun, matanya tak bisa terpejam karena suara laju truk terus membombardir mobil sisi kanannya—tempat Aiko duduk. Jadilah ia mulai ngesot ke kamar begitu tiba tanpa sempat sungkem atawa cipika-cipiki.
Lanjut ke esok harinya dimana Aiko puas bersetubuh dnngan kasur kapuk keras itu, dan mulai mengumpulkan nyawa. Berniat makan karena perut mulai berdendang, Aiko pun ngesot ke.dapur.di lain bangunan. Begitu melewati pintu beranda, Aiko menenemukan sang Jii-Jii—panggilannya untuk snng kakek—tengah ngudut di muka rumah yang langsung menatapnya curiga. Karena jomblo, Aiko pun salting (??)
Tanpa dinyana, sang kakek bertanya padanya, “kamu siapa??”
*sfx : bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip aiko jungkar-jungkir*
“I…ini Iko, kek,”
“Iko? Siapa ya?”
“Cucu kakek..”
“Cucu yang dari Cilegon itu?”
“Bukaaaaannn! Saya dari khayangan,” #plakk
“Ooh, iya… iya… gimana anakmu? sehat??”
“Anak saya masi di Jepang….” *digorok* “saya belum punya anak, jii,”
“Terus kamu yang mana ya??”
“satu-satunya cucu kakek yang gak mau jadi guru itu loh,”
sejenak si kakek diem, dan mengingat sesuatu.
“oh, kamu itu ya … yang niatnya mau jadi sutradara?”
*sutradara film BL iya* “…. hehe… iya … cucu-mu yang laknat itu…”
“Hoo… iya, cucu laknat…. terus sekarang mau jadi guru?”
“WHAT THE??!”
Ah, ya sudah abaikan.
Dan Aiko pun kembali membayangkan semur daging buatan sang nenek.
current music: kicau burung
current mood: kenyang dan bete
location: di suatu desa dimana butuh untuk naik ke genteng demi secercah sinyal
-KELAR-
Posted from WordPress for Android
Anata to Deaette Boku wa Shiawase Deshita by Kato Kazuki
加藤和樹 – あなたと出会えて僕は幸せでした

あなたと出会えて僕は幸せでした。
初めて誰かを愛する
事の意味教えてくれました。
[I'm happy to met you
It's my first time to love somebody
And I'll tell you the meaning of this thing,]
僕にはあなたが生きてく希望でした。
初めて胸が苦しくて涙する自分を知りました。
[Inside me there's a hope of your life
It's my first time that my chest hurts
And I just realize by myself when tears dropped,]
どうしようもなくて現実から逃げてたけど、
受け止めてくれた一人じゃないと
[However, I just want to run from the truth
But you gave me something, that I'm not alone,]
どんなつらい時でもそばで笑ってたね。
いつでも背中を押してくれた。
そのちいさな手握り返すたびに心満たされていた。
あのぬくもり感じたいよ、もっとずっとね。
[Whenever painful times, please, laugh beside me.
And keep pushing my back.
When I held those small hands back, my heart become full again,
I want to feel that warmth again, more, and always...]
二人並んで手をつないで歩く道は
これからもきっと続くはずだと…
[Both side by side, holding hands in the path we walked,
From now on, absolutely we will keep moving on...]
ごらん 雪が解け去り春がやってくるよ。
僕らの大好きな季節だよ。
あなたのように力強く咲いた花は光を浴びて
今もここで育っているよ、ずっとずっとね。
[Look! The snow melted, and the spring finally come.
That's our most beloved season,
And now, in here, bloomed a flower of strength like you,
and bathed in lights of sun, always, and always...]
あなたと出会えて僕は幸せでした。
永い眠りのあとでまた桜咲く季節に出会いましょう。
[I'm happy to met you
After a long sleep,
we will meet again in a season where blossoms are blooming,]
Down the mp3 here
Dedicated to:
My beloved Rie-senpai
Count of meeting is same as coung of departing, right?
Cheer up, we’re here for you
-Aiko
#PrayForJapan
Minna-san, konbanwa.
Sebelumnya, saya ucapkan
‘Shinnen Akemashite Omedettou Gozaimasu’
Kotoshi douzo yoroshiku onegaitashimasu.
Yoi o-nen wo.
Sebenarnya hari ini mau mem-posting FanFic ‘Atashi-tachi no Kazoku‘ saya yang terbaru.
Namun mendapati adanya gempa di Pulau Izu, Jepang, siang ini, rasanya membuat kami khawatir dan merasakan ini bukanlah moment yang tepat untuk berlebihan merayakan sebuah tahun yang baru. Walau diberitakan tidak menimbulkan tsunami, tapi kami semua merasakan khawatir dalam hati.
Akhirnya, penerbitan fic diundur sampai adanya salah satu update dari teman di sana yang menyatakan baik-baik saja atau tidak.
Terlebih Ohkuchi Kengo-san, saya harap beliau baik-baik saja, dan semuanya baik-baik saja.
Amin.
Jaa, semuanya, lets pray for Japan.
Semoga bencana ini tidak terlalu serius. Dan semuanya kembali baik-baik saja seperti biasa.
~o-inotte kudasai~
Matsushita Yuya – Futari
松下優也 – ふたり

ねぇ 君のことは誰より そう
わかっているつもりでいた
その心が 離れるわけないんだって思ってた
[Hei, lebih dari siapapun,
Aku mengumpulkan, dan mengerti tentangmu...
Dan ku pikir, aku tak punya alasan untuk melepaskan hati itu,]
さよならと告げるように 君は
つなぐ手をゆっくり ほどいていった
[Seperti mengakui perpisahan,
perlahan kau melonggarkan genggaman tanganmu,]
君だけを想ってるのに くるしいのに
言えないまま 今ふたりは
この想いを 静かに 抱きしめてる そっと
[Aku hanya memikirkan tentangmu, sangat menyakitkan
Dan tak terucapkan, dan sekarang kita berdua
Perasaan ini kudekap dalam kesunyian...
Perlahan...]
もう 傷つけても 傷ついても
そのすべてを 離せなくて
無理に笑う その笑顔も
切ないほど いとしい
[Walaupun menyakiti, disakiti
Semua hal itu takkan kulepaskan
Tertawa dalam paksa, wajahmu yang tersenyum itu
Sangat menyakitkan, sangat indah...]
幸せをくれた君に
せめて 最後くらい 何かを返したいのに
[Bahagia yang kuberikan padamu,
Setidaknya sampai saat terakhir,
Apakah yang kuinginkan kembali??]
悲しみを 隠せるほど
大人じゃない 強くもない
押さえきれず 溢れる想い
涙にすり替わってく
そっと
[Ku sembunyikan seluruh kesedihanku
Aku bukan orang yang dewasa, juga tak kuat
Menekanku, perasaan yang meluap itu
Dan berubah menjadi air mata,
Perlahan...]
どうして 別れが答えなんだろう
どうして 絆は途切れてしまうの
失う痛みに 心が負けてしまいそうだよ
今も君を…
[Kenapa perpisahan yang menjadi jawaban,
Kenapa kita berpisah,
Dalam luka karena kehilangan,
Hatiku seperti terkalahkan
Dan sekarang pun dirimu...]
こんなにも 想ってるのに
くるしいのに 言えないまま
また ふたりが会えることを どこかで祈るよ
[Seperti ini pun, aku masih memikirkanmu,
Dan itu menyakitkan, tak terucapkan,
Kuharap disuatu tempat, kita berdua bisa bertemu lagi, ]
悲しみを 隠せるほど
大人じゃない 強くもない
押さえきれず 溢れる想い
涙にすり替わってく
[Ku sembunyikan seluruh kesedihanku
Aku bukan orang yang dewasa, juga tak kuat
Menekanku, perasaan yang meluap itu
Dan berubah menjadi air mata,
Perlahan...]
down the mp3 here
Sengoku Nabe TV
Konbanwa, minna-sama.
O-hisashiburi desu, Yamada Hanatarou desu. Anata o tasuke ni marimashita. #plakk!
(kebanyakan nonton Burimyu)
Sudah cukup lama rasanya, saya tidak menyapa pembaca sekalian dikarenakan kesibukan luar biasa melelahkan *lebay lo*
jaa, malam ini, saya hanya ingin menyampaikan hasil ‘berburu’ gambar malam ini. Laporan gituuu ceritanya #digebok
Begini laporannya…..
Malam itu, Aiko tengah iseng memperkosa PC yang baru diganti OS-nya oleh sang abang tercinta yang cuma ‘diupahin’ secangkir kopi item. Niatnya sih, install Ms.Office, entah kenapa jadi tersesat dalam trackin gambar ber kata kunci ‘Aoyama Sota’ *ppffftt…*
Sembari nyari-nyari gambar abang yang tertukar itu… *kayak nama sinetron..* Aiko pun menemukan beberapa hal menarik.
Seperti, foto saat sang abang (Sota) masih menjabat sebagai Inui Sadaharu di Tenimyu.

“Abang jahat! Kenapa gak dipajang di blog! Itu kan ada muka laki gue yang masih unyun, baaaanng!”
(dan dilanjutkan dengan gerakan gaje semacam menggaruk monitor)
Itu jaman Kengo jadi Tezuka, jamannya masih unyun, masih afdol gue kruwes-kruwes~ #plakk!
Selanjutnya, Aiko mengetahui bahwa Sota membintangi film yang tidak diketahuinya, dimana ia menjadi seorang guru dan menaiki vespa ala anak kuliahan lengkap dengan tas ransel dan helm catoknya… *inget jaman kuliah*
Sat sedang asyik mengobok-obok warung mbah Gugle, tiba-tiba, Aiko dikejutkan dengan sebuah gambar. Ini!
Ini harus segera diselidiki, karena mirip dengan gambar sang suami yang ditemuinya beberapa saat lalu melalui warung mbah gugle, by mobile searching!

Akhirnya, setelah perjuangan yang melelahkan dan terlebih dahulu bersemedi di gunung Kawi, Aiko pun menemukan sebuah situs yang agak gak asing lagi.
“Sengoku Nabe TV”
Tak asing, karena saat berkunjung ke beberapa pemilik ameblo macam Ren, dan Kane, aiko menemui nama ini di blog mereka.
Setelah diobok-obok lebih dalam, di dapatinya beberapa nama nampang, dan beberapa wajah yang tak asing namun dengan sentuhan aneh yang membuat aiko tercengang untuk sejenak.
Inilah mereka…
First, Aiba Hiroki. Well… gak telalu kaget, coz udah biasa liat pakean kayak gini, dan toh Aiba cukup manis juga berbalut pink *disodok*
Kedua, mari kita say hell-o to mas JURI. Pertama liat gambar ini, gue kira dia KENN, #ngarep. Tapi pas liat kanji-nya… yaaahh… saya harus kembali memendam rindu pada si rambut jabrik itu… #pelukkaktus
Dan selanjutnya, tolong jangan kira ini foto gembel yang saya ambil dari kolong jembatan Asakusa, karena ini adalah selingkuhan saya #digorok. Kanesaki Kentarou, entah berperan sebagai apa, yang jelas saya pernah melihat foto ini di blog dia *dan sempat saya pajang di dapur bakal menusir tikus* #dibacok Cukup pantes juga berpakaian demikian karena belahan dada yang terekspos itu membuatnya semakin hot #dibakar
Dan inilah gambar yang saya temukan saat tengah berpikir: “Semoga Ren tidak nyemplung dalam acara TV yang lumayan gak saya mengerti tapi yang kelas semua wajah pemainnya gaje”, TA-RA Yagami Ren. “Oh, Ou-chan… kenapa kamu tumbuh kumis???” #berguling. “Dan kenapa gak satu episode sama Kane??” #diguyur (#think “kenapa jadi cablak-an dia ketimbang laki gue??“)
Inilah inti dari semua pembicara ngalor-ngidul saya di posting kali ini; Abang saya tercinta yang (sinting) tiada duanya: Aoyama Sota. Well, kalo dilihat sekilas, saya kira dia Ananda Omesh… udah kumisan, pakean ala yakuza… apalagi bagian hidup-mu yang mau diancurin lagi bang… *ngulek cabe* #digaplok
Dan yang terakhir adalah my beloved one: Ohkuchi Kengo. Emang awalnya saya mendapat gambar ini tanpa mengetahui lebih dahulu darimana juntrungan foto ini tercipta. Baru dapet jawaban setelah menelusuri Corner dari ‘Sengoku Nabe TV‘ #comment “Gayanya nggak banget…..“
Dan tak hanya penjelasan mengenai darimana foto ini berasal, saya pun mendapatkan beberapa gambar yang menggambarkan peran Kengo dalan ‘Sengoku Nabe TV‘
“Walau kerja kantoran pake shower-cap, tak apalah, ketimbang jadi host atau malah jadi bandar narkoba lagi…” *mengenang kisah perjalanan filmography Kengo*

“Ih! Walo dikata kerja pake shower-cap, tapi Mas-ku tetep ganteeeeeeeenngg!! XD liat deh mukanya, unyun bangeeeetttGayanya juga cablak bangeett!! Aaaahh! Mas-eee….!!” *peluk tiang*
Overall, dari acara TV ini, masih banyak nama-nama macam Murai Ryota dan Kato Kazuki yang dapat dijumpai. Namun karena gak ada gambar spesifik, jadi gak saya capture gambarnya :/
Pengen nonton sih, tapi dasar saya yang cuma bisa bergantung dengan Youtube. Jadinya cuma bisa nunggu 2 bulan kemudian dengan harapan ‘Sengoku Support Center‘ akan diupload…
-Owari desu-
current song: Mr. Children – 365 Nichi
current mood: Married with my Holiday
locaton: Home desu!
My New Novel
“Kau tahu jika berciuman dapat membakar kalori…?”
Aiko langsung menoleh padanya. Tatapannya penuh dengan ketidak-percayaan.
“…. dan menghangatkan tubuh. Setidaknya jika kau mau…”
Tanpa ampun wanita itu menundukkan kepalanya. Dapat terlihat hingga ke ujung telinga semburat yang menjalar merah. Padam. Semerah langit sore yang masih tertimpa runtuhan bintang.
Diam.
Memilih jawaban mana yang tepat untuknya, Aiko bertanya melalui tatapannya pada butir pasir yang menyelimuti kaki. Dingin karena bergumul dengan aura malam. Raut wajahnya terlihat gelisah. Tak sedikitpun terlintas inginnya untuk mengadah menatap wajah Kengo―laki-laki yang masih setia menanti jawabnya.
Jemarinya mulai mengusap tanah berbulir tersebut. Lengket dan asin. Laki-laki itu pun mengeratkan pelukan jaket yang menempel di tubuhnya. Walau tak terlihat, terdengar.
Perlahan, dirinya tergoda untuk menoleh. Dilihat olehnya tatapan dingin yang menantang malam dari riap ikal rambut yang menjuntai turun menutupi wajah pria itu.
Terselip rasa kagum akan lukisan siluet yang terpampang dalam pandangannya. Tanpa sadar, tangan yang sedari tadi terselip memeluk lututnya, kini sudah berada di sisi tubuhnya―sejengkal mendekati tubuh pria yang tengah dihempas angin barat tersebut.
Menyadarinya, Kengo mengalihkan fokusnya dari sinar orange yang mulai memudar dari kaki langit. Seklias melihat jemari yang kini sesenti lebih dekat dengan dirinya, lalu melihat wajah gadis itu. Masih tertunduk membiarkan helai poni panjangnya beriap-riap menutupi wajahnya yang tertunduk.
Naif.
Kamu.
Ya! Kamu.
Kamu naif.
Aku.
Juga aku.
Aku naif.
Kita….
Digenggamnya tangan itu perlahan. Membiarkan kehangatannya menjalar hingga ke ulu hati terlebih dahulu. Ada sentakan kecil dirasanya. Aiko terkejut. Mungkin. Lalu, saat pandangan mereka tertubruk untuk beberapa saat. Denga sepersekian detik, Kengo merapatkan jarak diantara mereka melalui bibir yang bertaut.
Tubuhnya menjadi kaku. Gadis itu.
“Ayolah. Kau seperti anak SMA yang baru mendapatkan ciuman pertamanya.”
Angin mendingin. Memprovokasi mereka untuk lebih panas lagi. Kengo intens menambah frekuensi katupan bibirnya. Terbawa suasana, Aiko mulai membalas sapaan lidah yang sedari tadi meminta izin untuk memasuki rongga yang lebih dalam.
Saling menjatuhkan. Bergelung layaknya ombak, mereka mulai merapatkan diri dengan pasir bisu tersebut. Mendominasi dalam kenikmatan yang memabukkan. Mencumbu setiap desah yang menyapa pendengaran.
Tentang kusut rambut-ku yang terselip diantara jemari-mu, tentang pasir yang menyelinap diantara celah jari kaki-mu. Tentan bintang yang membisu dihadapan kita, tentang ombak yang bernyanyi memanja malam.
Tentang semua yang tak bisa kulukiskan dengan bahasa, tentang kita yang tak bisa kutuangkan dalam kenangan.
-Tsudzukushitai desu-
current song: Honey L Days – Center of The World
current mood: Ready for the next execution
location: Home desu!
Mirip SekDes….
Malam itu, Aiko baru saja selesai mendownload ‘The Rock Musical Bleach: backstage‘
Musical pertama dari serial Bleach yang membuatnya kehabisan suara karena kerap meneriakkan ‘Kengo‘ sampai batas ‘Live Bankai Show Code:002‘ (karena di ‘Live Bankai Show Code: 003‘, Kengo sudah tiada… #plak! #rancu) atas unyu-nya muka sang suami di wayah umur segitu. (Sekarang udah gak HOT, toh umur udah 30… #direbus)
Dan sehabis menonton backstage yang membuatnya ketawa sukses dan kehabisan nafas karena Tsuchiya--Tutti–terpaksa harus dandan di dalam toilet ruang ganti wanita, Aiko pun berguling di dekat sang Ibu yang sedang berduka karena remote tipi-nya di umpetin si adek.
Jadilah percakapan antara seorang kolot tua yang sekedar mengetahui hape CUMA bisa buat nelpon, dan seorang anak kelaparan yang kasmaran (??)
Aiko: Mah, kalo jodoh ku orang luar, gimana yaa?? (memaksudkan Kengo)
Emak: JANGAN AH! Mening orang Indonesia aja
Aiko: Tapi ganteng maah, lumayan buat memperbaiki keturunan…
Emak: Itu tandanya kamu gak laku buat orang pribumi
Aiko: Eh, buset! Bukannya karena kita pacaran sama orang dianggap berkualitas ya??
Emak: Emang siapa sih? Ngebet banget??
Aiko: Ini~ *nunjukkin foto Kengo*
Emak: Oooh,
Aiko: Ganteng kan, maaaaahhh?? XD
Emak: Muka kayak SekDes (Sekretaris Desa) begitu juga…
Aiko: Emaaaaaakkk~~~!!! Masa iya laki idaman gue muka-muka sekdes ssiiieeee??? DX
Kacau, laki gue dibilang mirip SekDes… #garuktanah
current song: The Rock Musical Bleach – Magokoro
current mood: Menanti ajal #lirikujianmatematika
location:Home desu!
-Ijou desu!-
Rock Musical Bleach: Nostalgic Scene
1) Which of the actors/actresses are you most attracted to?
Ohkuchi Kengo, of course! No one could ever replaced him in my heart. ONLY HIM! #plak! #curcol
2) Who do you think has the best singing voice?
Ohkuchi Kengo. Did you hear me?? OH-KU-CHI KEN-GO OF-COURSE! XD #buagh! #urusai!
3) Which is your favourite song?
Ai Tooku, Nemurenai Yoru, Mou Hitotsu no Chijou, Silent Wish, Catharsis of Eternity, Omae wa Seigaku no Hashira ni Nare………. #Loh?!
4) Which is your least favourite song?
Okite, Soshite Mayoi (Bangun lalu Bingung. Kalo gue Bangun lalu, tidur lageee….. XD) #dzigh!
5) Which is your favourite musical?
Live Bankai Show Code: 002. Minna ga atsumatta XD
6) Which is your least favourite musical?
Live Bankai Show Code 003.Gak ada Kengo #plak!
7) Who do you think is the best dancer?
Bokap gue of course~ Tsuchiya Yuichi XDDDD Kengo juga sexy bin hot #jdugh!

8.) Who do you think is the best actor/actress?
Ohkuchi Kengo AGAIN!! XD I guess, Osamu-chantoo. It’s hard to make such a cool face in that messy musical (because by seeing the backstage session, you’ll laugh till die XD)

9) Do you think they should have kept Orihime, Chad and Urahara in the musicals?
Of course! Orihime is one of my fave character, and Chad one of my ex-lover #dzigh! and Oom Urahara is………. what ever-lah. the point is, I miss oom Itou so much X*
10) Your favorite backstage session?
It’s a bit nostalgic, when Renji (Oom Moriyama Eiji) taught Ichigo (Isaka Tatsuya) how to imitate some weird voice such as Japanese Nightingale, Kappa, or their friend……….Manabu-sama. Also when Aizen (Ohkuchi Kengo) tried to eat Hitsugaya’s (Nagayama Takashi) hair XD
11. Your most remembered song?
Almost all of them I remembered, but I proudly told you all that I could sing the entire line of ‘Mou Hitotsu no Chijou‘ from Live Bankai Show Code: 002 XD
12. The most beautiful voices of woman casts?
Kumiko Saitou played Hinamori Momo. Her high pitched such a melodic rhytm. I love her voice when Kore wa Maboroshii janai on Live Bankai Show Code 002.
13. Favorite voice of male casts?
Whoever I loved so much than Kengo?? He’s the perfect one! XD
14. Funniest scene ever!
On ‘Live Bankai Show Code 002when Aizen took back his ‘cube’ that used for his seat. That was so ‘its mine, i wont give it to you’ XD
15. Romantic scene ever.
On Live Bankai Show Code 001 when Aizen saved his only subordinate; Hinamori. I was getting so much jealous on that. How dare you Kengo…………… #deathglare
16.Coolest scene ever!
No Clouds in the Blue Heaven, when Aizen stretched his ponyhair back! XD I could see cleary his jidat jenongfull of sweats. How sexy Kengo was X3
current song: Aizen Sousuke & Kuchiki ByaKUYA – Coin (Rock Musical Bleach: The Live Bankai Show Code:002)
current mood: Mabok soal bartending…. (@_@)
location: Bed desu!
-Ijou Desu!-
La Constellation
Title: La Constellation (The Constellation)
Author: Takigawa Aihara
Series: Atashi-tachi no Kazoku
Genre: Romance
Rating: G
Theme Song: Kobukuro – Ryuusei
Current mood: Hampir Mati… #musimujian
============================================
Maegami:
Minna! Tadaimaaa~!!
Kembali dengan fic lovey-dovey saya dengan Mas Kengo #plak!
Akhir-akhir ini, Aiko tengat tobat dari mendownload dorama-dorama bejat yang bikin mimisan. Sebagai gantinya, Aiko kembali melengkapi koleksi video BuriMyu-nya. Musical dimana untuk pertama kalinya Koko mengenal sosok Kengo. Karena bernostalgia itulah muncul ide untuk membuat fic ini XD
Tapi sayang, Kengo gak banyak tampil, dan malah jadi orang jahat
#plak!
Minna! Silahkan dinikmati tulisan yang menghabiskan waktu 78 jam hidup saya terhitung mulai Sabtu kemarin.
Douzo, Otanoshimishite Kudasai!
——————————————–
Sebuah persembahan untuk yang tercinta; Ohkuchi Kengo.
“Selamanya, dihatiku….”
——————————————–
Kanagawa, Minggu pagi.
真冬の海辺に映った白く透明な月が
[Terpantul bulan putih trasnparan di atas lautan tengah malam,]
Curtain putih itu menari saat angin pagi menyelinap ke dalam kamar, dengan cercahan sinar matahari yang mengantarkan hangat. Sembari bersenandung, Aiko―20 tahun, mengumpulkan serakan pakaian kotor sang suami yang baru saja mendarat di atas kasur jam 2 subuh barusan. Pesawatnya delay, sehingga ia baru mendapatkan penerbangan pada jam 10 malam waktu Korea Selatan.
クラゲに見えた不思議な夜でした。
[Itu adalah malam dimana kita melihat ubur-ubur yang lucu.]
Ia hanya tersenyum, saat dilihatnya sang suami―Kengo―25tahun, masih pulas dalam tidurnya. Terlentang tanpa pertahanan menandakan bahwa sang suami terlalu lelah bahkan untuk sekedar bermimpi.
“Mungkin, agak siang nanti aku baru membereskan kasurnya,” gumamnya sambil.membereskan ceceran kertas yang terburai dari suitcase milik pria yang menikahinya 3 bulan lalu tersebut. Dengan asal―asal rapih, Aiko membereskan kertas putih yang berisikan deretan angka tersebut. Malas ditelitinya karena ia cukup bangga dengan nilai 70 pemberian Abe-sensei―sang Guru Besar Akunting―sewaktu ujian kelulusan pembukuan.
Namun ada satu lembar kertas yang menarik perhatiannya. Warnanya tak lagi putih―usang. Terpampang tulisan ‘Undangan Reuni SMA Higashiyama Higashiōsaka Angkatan 26, Aula Higashiyama’
‘Seperti nama SMA almamater papah,’ gumamnya. Penasaran, dibukannya lipatan kertas tersebut. Terpampang 4 Desember 8 tahun yang lalu.
‘Seingatku, aku pernah ke acara ini dengan Papah beberapa tahun yang lalu,’ ujarnya dalam hati sembari terus membaca deretan kanji yang tertulis diatas kertas yang hampir rapuh tersebut.
だからもう怖がらずに 預けて欲しい
[Maka itu, aku takkan takut lagi, dan ingin kupercayai...]
La Constellation…
Kanagawa, Desember.
Tak seperti biasanya Aihara―12 tahun;putri bungsu keluarga Tsuchiya ini, diam di rumah saat liburan musim dingin.
“Tumben tak keluyuran ke rumah Rei-chan…?” tanya Harumi―ibu―saat mendapati anak perempuan satu-satunya ini tengah asyik bertengger di depan televisi―padahal bisanya bermain kerumah sahabatnya―Rei atau nyari ribut dengan kakak kembarnya―Sota―dengan menjahili sang kembaran dengan mengacak-acak kaset Sentai kesayangannya.
“Bosan. Ai ingin istirahat saja,” jawabnya tanpa menggeser pandangannya dari acara memasak.
“Bagaimana jika ikut papah ke reuni nanti malam??” tawar Yuichi―sang kepala keluarga, yang tiba-tiba datang menggabruk sofa yang tengah diduduki sang anak. Sontak Aiko njomplang. Lalu salto dengan cantik ke salah satu sisi sofa.
“Ogah ah! Paling juga acara kumpulan kakek-kakek macam Papah” tolaknya sembari ngesot meraih sisi sofa untuk menjadi tumpuan untuk berdiri.
“Ayolah, Aicchan. Lagipula, percayalah! Ini bukan hanya sekedar reuni, tapi juga pesta resmi!” promo Yuichi. ada bakat terpendam jadi sales marketing juga rupanya.
“Ogah, paling membosankan. Aku mau ke toko buku saja ah,”
“Untuk membeli majalah HOMME edisi terbaru ya?”
“Kok papah tau??”
“Akan papah belikan jika kau mau menemani ke Reuni,”
“Kenapa tidak Mamah saja yang menemani papah?”
“Oh, jadi tak mau majalah HOMME nih? Baik, uangnya besok untuk Sota membeli tongkat baseball saja,”
“IKUUUTTTT!”
何度引き裂かれても
[Seberapa kali pun kita berjarak]
Kagoshima, hari kemarin.
“Kenapa bukan Jun??” bibirnya berkerut membentuk pelangi―melengkung ke bawah. Botol plastik berisi makanan ikan yang ada dalam genggamannya pun dikerut, karena sang Ibu tauk-tauk mengganggu ritual mesranya dengan para Koi yang tinggal di kolam halaman belakang kediaman Takigawa tersebut.
“Kau putra sulung Takigawa, dan hampir menyelesaikan sekolah,” suara Kime―sang Ibu terdengar merayu. Sibuk melorohkan hati si sulung.
“Jun juga hampir menyelesaikan sekolahnya,”
“Tapi Junicchi―panggilan kesayangan Jun―baru SMP,”
Kengo; 17 tahun―bocah itu, mengerucutkan bibirnya, “Kenapa bukan Haha―panggilan resminya pada sang Ibu―saja yang ikut?”
“Karena yang ingin dibanggakannya itu, Ken-Ken―panggilan sayangnya untuk sang putra sulung―bukan istrinya,” senyum Kime.
―ck! Sang bunda memang paling jago kalau urusan merayu, “memangnya kapan?”
“Pagi esok. Kalian langsung berangkat ke Osaka,”
“HEEE???”
遠ざかっても繋がったままの
[Walaupun terpisah satu sama lain, kita akan kembali terhubung,]
Higashiyama Hall, Minggu, jam 8 malam.
Sebuah SUV tua mampir di halaman SMA Higashiyama Osaka.
Yuichi merapihkan jas hitam pilihat sang istri dengan kemeja putih―formal, sebelum akhirnya membukakan pintu mobil untuk sang anak yang terlihat tenggelam dalam lapisan kain itu.
“Papah, mengapa mesti memakai tsukesage sih?” gerutu Aiko sembari menggeret kimono formalnya itu. Butuh 2 jam untuk berjibaku dengan lapisan kain tersebut sampai akhirnya jadilah tsukesage tua warisan sang Ibu di tubuh Aiko.
“Papah ingin kau tampil cantik di acara ini. Lagipula, papah ingin menjodohkanmu dengan anak-anak beberapa kawan di sini,” terlihat atau tidak senyum evil-nya, pastinya ada nada licik yang terdengar.
“Kyaaa! Papah jahat!!” jerit Aiko sembari berusaha kembali ke jok mobil tua sang papah.
Yuichi terkekeh, menampilkan kerut diwajahnya yang hampir menginjak 40 tahun.
“Ayo, gandeng papah. Kita jalan ke dalam,” Yuichi mempose-kan lengan kirinya sedemikian rupa.
“Ogah, aku lebih care dengan tsukesage Mamah. Takut kotor,” Aiko menjinjing ‘rok’ nya sebatas betis.
“Mau papah gendong??”
“TIDAAAKKK~!!”
二人を包む 瞼の奥の宇宙
[Yang mendekap kita adalah, galaksi yang berada di bawah kelopak mata...]
“Baiklah, para hadirin. Silahkan menikmati hidangan yang ada,”
Acara dimulai begitu mereka memasuki hall yang diterangi ribuan watt cahaya tersebut.
Belum genap terhitung 6 langkah masuk dari pintu besar, Yuichi sudah berjumpa dengan banyak kawan lama. Bisa dipastikan, peluk dan tawa kakek-kakek tua―yang hampir membuat Aiko berlari keluar untuk mencari kantung plastik bakal muntah―itu tercipta dihadapan mata gadis mungil yang hampir lulus SD tersebut.
“Papah, sekarang kita ngapain?” tanyanya saat celah diantara perbincangan sang Ayah dan kawan lamanya itu merenggang.
“Kau, nikmati saja makanan yang ada. Tapi ingat! Jangan sekalipun menyentuh gelas yang berkaki seperti ini,” tunjuknya pada gelas tulip yang tengah dipegangnya―berisi champagne soalnya.
“Lalu papah?” Aiko bertanya balik.
“Papah akan menemui beberapa relasi dulu. Kau, jangan pergi jauh-jauh,” lalu Yuichi berbalik tanpa sempat melihat penggembungan besar-besaran pada kedua pipi Aiko.
“Katanya mau dijodohkan. Tapi kok malah ditelantarkan,”
Bete, dirinya beringsut pada satu sisi gedung. Mencari tempat duduk dan termenung memandangi ruangan yang ditumpahi asap cerutu. Karena ujung kakinya belum menyentuh lantai saat ia duduk di bangku tinggi tersebut. Dengan riang, diayunkan kedua kakiknya. Untuk mengusir jenuh sepertinya. Sebenarnya ingin makan. Tapi, meja-meja itu terlalu tinggi untuknya yang berukuran 130 cm tersebut. Jadilah ia berpuasa sampai sang Ayah menawarkan diri untuk mengambilkan cupcakes coklat yang terlihat menggiurkan tersebut.
―MIAWW…
Tanpa disadari, kedua kakinya menyentuh benda bertekstur macam beludru―halus. Dilongoknya ke bawah, dan didapatinya seekor kucing jenis anggora tengah berada di kolong kursinya. Merasa digoda, Aiko pun tertarik untuk mengajak main sang kucing.
―HAP!
Dengan lincah tubuh mungilnya yang berbalut tsukesage tersebut menuruni benda yang berjarak sekitar 50 cm dari lantai tersebut―terbilang tinggi untuk kerdil macam dirinya.
Sang kucing terkejut, lalu berlari keluar melalui pintu yang ada di samping tempat duduk Aiko, karena terkejut akan kehadiran makhluk yang tak dikenalinya. Namun dasar Aiko. Lebih baik ia keluar menantang malam Desember, ketimbang berdiam diri lalu mati bosan di dalam pesta reuni orang tua yang rata-rata berusia kepala empat tersebut.
“Eeh~! Neko-chaan~! Tunggu~~~!!”
Sementara itu Yuichi…
Sudah hampir 2 Dasawarsa dirinya tak menemui rekan satu perjuangan di jenjang akhir yang di sebut sekolah. Terlebih sahabat yang selalu setia menemani hari-hari di bangku sekolah dan setua dirinya. Teman berbagi contekan, dan teman dikala sesi hukuman Tsutomu-sensei saat tak mengerjakan pe-er sosialnya.
Walau ditengah lautan manusia, Yuichi pasti langsung mengenali karibnya itu. Dan matanya sedikit menyipit untuk memastikan, saat dirinya menemui sosok sahabat sebelah meja-nya itu saat sekolah, sebelum akhirnya Yuichi memutuskan menghampiri sosok yang berbalut Hakama hitam. Tak berubah semenjak kelulusan.
“Yo, Eiji.” sapanya sembari menepuk pundak sahabatnya dari belakang itu.
Yang disapa menoleh. Karena penglihatannya tak meyakinkan, ia pun berbalik badan.
Dilihatnya seorang bapak tua berpakaian jas formal dengan rambut hitam lurus yang semakin tipis―jadi jidatnya terlihat menonjol.
“Yu…ichi? Yuichi, kan?” Bapak ber-Hakama tersebut memastikan nama sang kawan di hadapannya ini.
“Siapa lagi yang selalu menjepret-mu saat tertidur di jam pelajaran Hasegawa-sensei??” Yuichi nyengir. Lebar.
Dan selanjutnya, bisa ditebak jikalau ada adegan berpelukan ala teletubies.
“Kau tinggal dimana sekarang? Sudah lama rasanya sejak berpisah di upacara kelulusan,” sapa Eiji―sang karib.
“Seperti yang kau tahu, aku hidup berpindah-pindah. Sekarang aku tengah menetap di Kanagawa. Dan kau? Masih dengan tradisi tua-mu di Kagoshima??” Yuichi tertawa sembari menyenggol lengan sahabatnya sejak SD tersebut.
Eiji hanya terkekeh. Percakapan alot yang menurut mereka menyenangkan.
“Oh ya, kau sendirian?” tanya Eiji.
“Um, tidak. Aku bersama putri-ku. Tapi sekarang, ia entah kemana. Mengambil makanan mungkin. Kau sendiri?”
“Aku dengan putra-ku. Tapi sedari tadi ia izin ke toilet. Belum nampak juga ia sedari tadi,”
“Ah, sudahlah. Urusan memperkenalkan anak kita itu belakangan. Sekarang, mari kita berkumpul dengan yang lainnya. Kau masih ingat permainan kala kelas sepi??”
星屑の中散りばめられた心が二つ
[Dua hati bertatahkan dalam debu bintang...]
Kakinya yang berbalut pantovel hitam melangkah diatas batu kali yang menghiasi tapak jalan menuju pinggir pagar pembatas area sekolah tua tersebut. Membiarkan horizon malam membungkus sosoknya yang terbalut jas rapih. Higashiyama Koukougakko memang terletak lebih tinggi daripada bangunan lainnya di sekitar―semacam di atas bukit. Menjadikannya lebih dekat dengan langit.
Kengo, berdiri menantang bintang untuk menghujani dirinya. Tangannya yang sedari tadi tersangkut di saku celana pun mulai merogoh dan mengeluarkan sebungkus rokok. Diambilnya sebatang lalu dibakarnya dengan pemantik perak pemberian seorang teman saat darmawisata ke Okinawa kala SMP lalu.
Asap pun menumpahi langit gelap. Disesapnya bau tembakau yang khas itu. Izin ke toilet memang ampuh untuk sekedar melepas penat dari hingar-bingar reuni yang membuat kepalanya cenat-cenut. Mungkin nanti ia harus menambahkan alasan ‘tersesat saat mencari toilet’ agar sang ayah tak meninggalkannya di
bagian Kansai Negara Jepang tersebut.
―GUSRAKK!
Tiba-tiba, sebuah suara gemerisik semak mengganggu percumbuan Kengo dengan langit musim dingin yang berhiaskan bintang dalam gulita malam yang dingin. Dilihat olehnya saat berbalik badan, semak hijau yang bergoyang. Seseorang pasti menyenggolnya dan menimbulkan suara tadi. Penasaran, ditambahkan satu langkah kakiknya mendekati semak tersebut. Dilongoknya ke bawah dan di dapatinya seorang gadis bergelung dua yang tengah bersetubuh dengan tanah―tengkurap. Kimono pink-nya tersingkap hingga sebatas betis.
Belum sempat Kengo bertanya dalam hati, gadis tersebut langsung berusaha bangkit. Lalu jongkok membersihkan lututnya. Nampaknya ia tak menyadari kehadirannya yang tengah menonton setiap gerak-geriknya.
Kengo diam tak bergeak. Tak bersuara. Namun perlahan, gadis itu berhenti mengusap tempurung lututnya. Dengan slow motion ala-ala film Bollywood, gadis kecil itu mengadah. Mempertemukan pandangan mereka.
“Kyaaaaaaa~!”
Sontak ia menjerit.
“Gyaaa~!”
Kaget, Kengo pun ikutan.
Cepat tersadar, Kengo segera menbekap mulut pemilik tubuh yang lebih mungil darinya itu. Sontak Aiko―gadis itu, berusaha melepaskan diri.
Keadaan pun menjadi hectic bin panik.
“Aku akan melepaskan tangan ini, jika kau diam,” ancam Kengo setengah berbisik sembari berlutut menyejajarkan tinggi dengan sang gadis.
Sejenak, Aiko menjadi tenang, walau tatapan sinis masih dilemparnya pada pemuda itu.
“Tenanglah, aku juga salah satu undangan seperti yang lainnya. Aku bukan penculik kok,” terangnya.
“Nenek-nenek buta juga tahu kalau kau tamu undangan,” gerutu si gadis.
“Lalu, mengapa kau menjerit?” Kengo mengernyitkan alisnya.
“Siapa yang tak terkejut sih, jika wajah orang yang tak kau kenal berjarak hanya beberapa centi saja dari wajahmu??!” sewot Aiko.
“Sensitive sekali,”
“Aku kan belum pernah dicium siapapun!”
“Seharusnya, kucium saja tadi,”
―PLAKK!
“Hanya bercanda,” dengus Kengo sambil mengusapi pipinya.
Aiko semakin cemberut. Ia diam. Untuk beberapa saat. Sampai akhirnya…
“Ehh?? Neko-chan pergi kemana tadi??” mendadak panik, Aiko pun bangkit. Disisirinya seluruh semak yang ada di sekitar.
Kengo lantas hanya diam menonton. Mimik wajahnya aneh karena seribu pertanyaan tentang sang gadis muncul dalam pikirannya saat ini.
“Mengapa diam saja?! Gara-gara kau, aku kehilangan kucing tadi!” Aiko ngamuk.
“Kenapa jadi salah ku??!” Kengo bangkit. Menggeram.
Tak menjawab, Aiko terus mencari. Tak peduli ujung Tsukesage sang bunda yang mulai kotor karena menyentuh tanah bersalju itu. Disadari oleh sang pemuda, Aiko itu… sekitar 40 cm lebih pendek darinya.
Capek karena Kengo tak kunjung membantunya, dan si kucing tak kunjung ditemukannya, Aiko menyerah. Ia berjongkok di sisi semak membelakangi langit malam.
“Jadi…. kau keluar Hall hanya untuk mengejar seekor kucing?” tanya Kengo (berusaha) ramah, dengan berdiri di sisinya.
“Diam!” ketusnya. Sama sekali tak menoleh.
“Sudah lusuh, rambut-mu acak-acakan……,”
“Dan kau melihatnya, bodoh,”
“Yah, sebaiknya kau kembali ke dalam Hall sebelum mati kedinginan di sini,” lalu dibakarnya lagi sebuah rokok.
“Kau merokok ya?” tanya Aiko saat dirinya menoleh karena suara batu pemantik yang beradu dengan jenis yang sama.
“Terlihat kan?” dihelanya satu nafas yang mengeluarkan asap.
“Padahal usiamu belum seberapa,” sinis Aiko.
“Hei, aku sudah 17 tahun, tauk!”
“Merokok itu berbahaya. Lebih baik kau hentikan mumpung usiamu masih muda,” ujarnya sembari bangkit. Dengan enteng Aiko merampas pemantik perak yang masih bertengger di tangan si pemuda itu.
“Sok tau,” dengus Kengo kesal, “kembalikan!”
“Setelah kau berjanji padaku untuk tidak merokok lagi,” Aiko menyelipkannya pada tas jinjing sewarna tsukesage-nya―pink.
“Kau naif. Aku tak akan berjanji karena aku tak ingin membohongi-mu,”
“Coba saja,” Aiko menyembunyikan tas pink-nya di balik punggung.
Kengo kesal. Geram malah. Kakinya sudah berancang-ancang untuk menerjang si kecil sialan ini.
“KUTANGKAP KAU!” satu lecutan pada otot tungkai kakinya, dan rokoknya dibuang entah kemana, Kengo menjejak langkah cepat―sedikit berlari―menuju Aiko.
“KYAAA~!!” jeritannya bercampur tawa. Nyatanya, gadis itu sudah siap untuk berlari pula.
Jadilah adegan kejar-kejaran ala film india…
愛の闇を駆け抜けてく想い流星になり
[Perasaan yang berlari dari gelapnya cinta, akan menjadi bintang jatuh]
“Kembalikan pemantik-ku!! Kisamaaa!!”
“Coba saja ambil sendiri!!” menantang, Aiko menjulurkan lidahnya.
流れていくよ君のそばまで消える前に
[Yang mengalir hingga ke sisimu sebelum menghilang,]
Dari balik ranting momiji yang tengah botak karena musim dingin, nampaklah dua sosok berbeda tinggi tersebut berkejaran. Antara yang dikejar dan mengejar. Mengelilingi bangunan Aula tua SMA Higashiyama tersebut.
“Oi! Chibi!! Tunggu! Aku sudah capek!!” dan yang pertama mengibarkan bendera putih.
“Oho! Oom sudah capek rupanya,” ledek Aiko mengurangi kecepatan berlarinya, lalu berhenti pada sebuah bench kosong yang menghadap luar sekolah dengan curam dataran yang terpampang 5 meter dari tempat mereka berpijak. Jika mereka duduk di sana, maka layarnya adalah langit malam dan pemandangan kota Higashiōsaka.
“Aku bukan oom-oom!” sanggah Kengo dengan nafas yang tersisa.
“Ayolah, aku bahkan masih bisa mengelilingi gedung ini untuk 5 putaran lagi~” tantang Aiko, “makanya, jangan merokok, jika tidak ingin nafasmu menjadi pendek,” kakinya menapak ke atas bench tua yang lapuk―terlihat dari tekstur kayu-nya yang lapuk bolong-bolong. Dimakan rayap, mungkin.
Berputar dengan riang, Aiko tak menyadari lapisan salju yang menjadi es, melapisi kayu bench tersebut. Menjadikannya licin, dan dapat membuatnya terjatuh kapanpun.
“Bodoh!” tanpa memberikan peringatan lanjutan, Kengo langsung berlari ke arah bench. Tepat saat tubuh mungil sang gadis mulai oleh karena tergelincir. Dan…
―BRUKKH!
“Selamat. Kau mendarat di atas tubuhku…” Kengo berkata dengan sisa nafasnya. Perutnya sukses tertindih tubuh Aiko yang tak dapat dibilang ringan tersebut.
“Ah… maafkan… aku,”
“Daripada meminta maaf, lebih baik kau geser tubuhmu! Berat tauk!” omel Kengo. Nyawanya hampir lepas, karena hampir lebih dari 17 detik jantungnya berusaha keras mendapatkan pasokan oksigen dengan diafragma yang tertindih beban 45 kg tersebut.
Tanpa menunggu wajah Kengo membiru, digesernya tubuh dari atas pinggang pemuda tersebut.
Setelah nafasnya normal, Kengo teringat sesuatu. Buru-buru dirogohnya saku celana dan didapatinya bungkus rokok yang tak lagi memiliki bentuk. Saat dibuka, batang-batang tembakau tersebut pun sudah patah.
“Aahh… Rokok-ku…” desah Kengo.
“Ano… maaf,” Aiko mengerut sedikit jas yang menyentuh tanah bersalju tersebut.
“Ah sudahlah. Jangan dipikirkan,” balasnya cuek sambil berusaha bangkit. Otaknya bisa beku jika kelamaan menempel pada tanah dingin tersebut.
Tak terdengar apa-apa dari si gadis cerewet tersebut. Mencari tahu, Kengo menatapnya. Dan mata Aiko sudah memerah. Nampak bulir bening yang menganak di pelupuk kedua matanya.
“He, kau menangis?? Ayolaaahh~ Jangan menangis~!!” Kengo panik. Takut-takut jika ada orang lewat dan menyangka ia hendak berbuat macam-macam dengannya―padahal, dari segi posisi, ia lah yang nampak seperti ‘habis dimacam-macami’.
Kehabisan akal untuk membujuk, Kengo mengutuk dirinya sendiri. Kelimpungan mencari inspirasi untuk menghentikan tangis seorang anak SD. Sampai pada akhirnya, ia mengadah….
“Oi, lihatlah,” Kengo menyenggol sedikit lengan si gadis.
Aiko tak bergeming.
“Lihatlah ke atas. Anggap itu sebagai permintaan maafku,”
Perlahan, Aiko mengadah. Tergugah.
Terbentang di atas kepala mereka kanvas hitam bertabur kilau berlian.
僕たちは同じ星座だと信じて
[Karena aku percaya kita hidup di gugusan bintang yang yang sama,]
“Indahnyaa…” terpukau, bola matanya memantulkan hamparan bintang tersebut.
“Itu… Perseus, rasi bintang yang hanya bisa kau lihat di bulan Desember,”
“He? Begitu kah? Lalu yang itu apa?”
“Itu… Eridanus. Bentuk rasinya seperti sungai,”
“Kau… tahu banyak tentang bintang ya?” Aiko memandang kagum pada laki-laki yang kini rebahan di sampingnya―meluruskan pinggang yang dianggapnya kecengklak.
“Aku lahir dan besar di Kagoshima. Ada pantai di dekat rumahku. Bisa setiap malam aku duduk di sana memperhatikan bintang,”
“Kok bisa ada di Osaka?”
“Aku ikut Ayah ke acara ini,”
“Bagaimana caranya?”
“Naik pesawat lah, memangnya terbang,”
Dan disambut oleh ‘ooh’ si gadis.
“Nah, sudah terlalu lama kita diluar. Sebaiknya aku mengantarmu ke dalam. Mungkin orang tua-mu tengah mencarimu,” ujar Kengo sembari bangkit dan membersihkan serpihan salju yang menempeli celana panjang dan kemeja biru-nya.
Tiba-tiba Aiko teringat pada sang ayah. Sepertinya ia harus sungkem pada Yuichi karena bermain terlalu lama. Terlalu jauh.
つかめない幻を抱きしめた胸を刺す痛みが
[Ilusi yang tak tertangkap mendekap hati yang tertusuk luka,]
“Kau… bisa berjalan??” tanya Aiko khawatir melihat langkah penolongnya sedikit terpincang.
“Tentu saja bisa,” ringis Kengo, “… lagipula, tak keren rasanya jika untuk berjalan saja dibantu oleh seorang gadis cengeng sepertimu,” goda-nya yang diakhiri gelak tawa dan hujan pukulan Aiko yang tak seberapa sakit itu.
―MIAWW…
Tepat dua langkah sebelum meraih lantai gedung, Aiko mendapati si bulu putih itu ada di hadapan matanya. Kucing yang tadi membuatnya terjerembab dalam dinginnya salju, dan bertemu dengan pemuda aneh ini.
“Neko-chaann~!!” riang, Aiko langsung meninggalkan pemuda itu di belakangnya.
Kengo hanya bisa mengurut dada melihat kelakuan ajaib si gadis.
Dikejarnya kucing tersebut (lagi) hingga ke dalam Hall. Tak mempedulikan sekitar yang sempat ditabraknya, pandangannya hanya tertuju pada si kucing.
―BRUKK!
Sampai akhirnya ia menabrak seseorang.
“Kemana saja dari tadi??”
Sambil mengusap jidatnya yang sakit, Aiko mengadah. Nampaklah sang Ayah tengah berkacak pinggang.
“Aku…. bermain keluar…” ungkapnya dengan gugup.
“Sudah makan??”
Aiko mengangguk cepat―berbohong.
Yuichi menghela nafas, “esok Papah harus berangkat pagi. Sebaiknya, kita cepat pulang malam ini,” tangan kanannya langsung menggenggam bahu sang anak. Mendorongnya untuk mengikuti alur jalan menuju mobil mereka.
“Eh, tapi…”
“Apa? Ada yang tertinggal?”
Aiko langsung berbalik badan. Tapi pemuda tadi tak terlihat dalam pandangannya.
“Ada apa?” tanya Yuichi lagi.
Aiko menggeleng cepat. Kengo tak ditemukannya, dan sang Ayah harus berangkat pagi esok. Tak enak hati kalau menahannya lebih lama dari ini.
“Jaa, kita pulang,”
引力のように二人引き寄せ合う
[Seperti gravitasi, kita berdua saling tarik-menarik,]
Aiko tersenyum. Kenangan itu kembali mengaliri ingatannya.
Sampai tiba-tiba, dirasanya rengkuhan sang suami dari belakang.
“Ah, aku membangunkan Ken-Ken rupanya ya?”
“Tidak,” Kengo menyesap wangi lavender yang tertinggal di helai rambut lurus sang istri, “tumben, lama sekali kau duduk di pinggir kasur,” bisiknya.
Aiko tertawa, “aku baru saja menemukan ini,” ia mengacungkan undangan yang mampu mengembalikan ingatan masa kecilnya.
“Apa ini?” tertarik, Kengo meraihnya.
‘Undangan Reuni SMA Higashiyama Higashiōsaka Angkatan 26, Aula Higashiyama’
“Ah, ini. Ini undangan reuni Chichi―panggilannya pada sang Ayah―8 tahun lalu,” jelasnya, lalu kembali merebahkan diri pada hangatnya kasur pagi di bulan Desember.
Alis Aiko mengernyit sejenak, tatapannya mengikuti sosok sang suami dengan insting ingin menyelidiki.
“Ken-Ken, boleh aku bertanya sesuatu?” tubuhnya mendekati sang suami yang kembali mencumbu kasur.
“Hm? Apa?” responnya 80% malas.
“Apa kau dulu merokok??”
“Sekarang tidak lagi. Kan?”
“Apa dulu kau merokok??”
Kengo mengadahkan torso-nya, sehingga matanya dapat menangkap sosok sang istri yang bertampang detektif tersebut, “kenapa tiba-tiba sekali kau tanyakan itu?” curiga Kengo.
“Jawab saja aku. Apa kau dulu merokok??”
Kengo diam sebentar. Menatap sang istri curiga, “dulu, ya. Aku pernah merokok,”
“Usia berapa?”
Dirasanya, sang istri seperti pegawai puskesmas, “dari kelas 2 SMP,”
“Sampai??”
“Saat menjelang ujian kelulusan kelas 3 SMA,”
“Apa alasan Ken-Ken berhenti merokok?”
“Pemantikku hilang, dan rokokku rusak pada saat itu. Jadi mau tak mau, selama jarak Osaka-Kagoshima, aku mengunyah permen karet. Entah mengapa, kebiasaan merokokku hilang,” akunya.
Seperti mendapatkan jawaban, Aiko langsung mencari-cari sesuatu dalam laci lemari pakaian.
Suara ‘grasak-grusuk’ pun tercipta. Penasaran, sang suami akhirnya tak jadi tidur. Ia bangun dan menonton kelakuan Aiko.
“Kko-chan cari apa?” tanyanya.
Aiko tak menjawab.
Dibiarkan olehnya, dan dilanjut tontonan sampai akhir.
5 menit berselang, Aiko menemukan sesuatu―sebuah kain pink menyerupai tas jinjing. Matanya berbinar dengan senyum yang mengembang. Kengo semakin tak mengerti. Dibukannya tas tersebut, dan sebuah benda perak pun kini ada dalam genggaman sang istri.
Kengo masih tak mengerti saat Aiko menatapnya dengan penuh rasa sukacita. Dihampirinya sang suami, dan duduk di sampingnya.
“Ken-Ken, ingatkah kau dengan benda ini?” dibukanya kedua lingkup tangannya, dan terbaringlah sebuah benda perak yang samar-sama muncul dalam ingatannya.
“Pemantik… kalau tidak salah, dulu ini milikku…,” jemarinya menyentuh ukiran perak tersebut. Kengo diam. Dahinya berkerut―sebuah kenangan kembali terputar dalam memorinya.
“Kko-chan, darimana kau dapatkan ini??”
Sang istri hanya tersenyum lebar. Sesekali disisipi tawa. Matanya memberikan isyarat ‘ini aku!’
Dari pandangan sipitnya, Kengo melebarkan fokus. Sebuah kesimpulan terlahir dari hint-hint yang terjalin rumit.
“Tak mungkin…” ucapnya diantara kebahagiaan.
Aiko masih menatapnya bahagia, “kau… masih ingat aku??”
Kengo tertawa.
“Gadis kecil cerewet yang kau temui 8 tahun lalu??” lanjut Aiko.
Tanpa menunggu kata-kata lanjutan dari sang istri, Kengo merengkuh tubuh mungil Aiko.
“Deaetta…….”
君よりきれいな人でも、君より優しい人でも、
[Ada orang yang lebih indah darimu, ada orang yang lebih baik darimu,]
Epilogue:
“Lama sekali ke toilet nya?”
Sang ayah–Eiji, tiba-tiba menepuk bahu-nya.
“Ah, eh… um… ano… tadi… aku tersesat. Toilet-nya jauh sekali, lalu….”
“Sudahlah, tak mempan alasan seperti itu. Jaa, sudah makan sesuatu kah?”
Kengo menggeleng.
“Jaa, mari kita temui beberapa teman relasi, setelah itu kembali ke Hotel, dan pulang ke rumah,”
Kengo ayem. Nurut saja dengan instruksi sang ayah, sembari diam-diam meratapi cerutu-cerutu murahannya yang tak lagi berbentuk. Mengelus saku celana-nya pelan, Kengo teringat sesuatu…
“Pemantikku…?!!”
Sementara itu di perbatasan Higashiōsaka…
“Kalau kau ngantuk, tak perlu-lah terjaga demi menemani papah menyetir,”
Yuichi merestui sang anak untuk segera terlelap karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam–lewat dari waktu tidur sang anak.
Aiko menggeleng, “tidak, tidak apa-apa. Kalau nanti sudah ngantuk, Ai akan tidur kok,” tangannya mendekap tas jinjing pink-nya. Lebih erat. Sampai ia merasakan sebuah benda keras dan dingin tersamar dirasakan dari balik kain kasa yang lumayan tebal tersebut.
Tanpa bercerita pada sang Ayah, Aiko mengintipnya. Nampak sebuah pemantik perak milik pemuda tadi tertidur bersama dompet dan saputangan miliknya. Terkejut, Aiko hanya membelalakan matanya. Mulutnya mangap, tapi tak satu pun kata keluar mengaliri bibirnya.
“Kenapa??”
Tersadar, buru-buru dirapatkannya mulut tas tersebut. Sang ayah mengamatinya sedari-tadi, “… tidak, bukan apa-apa…” senyumnya gugup.
Yuichi hanya mengangkat kedua bahunya, lalu kembali menyetir.
“Bagaimana ini?? Bagaimana caranya aku mengembalikan pemantik ini??”
君にはなれないんだもう誰も。
[Tapi tak ada seorang pun yang bisa menjadi dirimu…
——————————————–
Atogami:
Fyuuh, jadi juga akhirnya, fic kesekian. Sebuah persembahan untuk suamikyuh tercinta #plak!
Dasar author bejat. Sudah tauk besok Ujian AKhir. Bukannya belajar, malah sibuk bikin beginian. Mana kacau dan hancur pula DX
Awal mulanya, adalah inspirasi kamar-mandi. Dimana Aiko juga pernah membuah adegan yang sama saat membuat novel ‘Itsumo Issho’ XD dan voila! Jadilah adegan aneh bin kacau.
Dedicated to….
Ken-keeen~!! Cintaaa~! Sayang~ XD
Selamat bulan Desember~ with love, and live. Jangan sampek kedingingan di bulan Desember ya~
Aku gak bisa pulang ke Jepang untuk menghangatkanmu, soalnya. XD #plak!
- For all readers!
Happy December!!XD have a nice holiday (and exams)
With all my Love~
-Aiko


































